Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Tampilkan postingan dengan label Perang Saudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Saudara. Tampilkan semua postingan
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , , ,

Tentara penjaga perbatasan Jerman Timur, Conrad Schumann, melompati kawat berduri pada tanggal 15 Agustus 1961.
Orang Jerman berdiri di atas tembok ini, tahun 1989, tembok ini akan dihancurkan beberapa hari kemudian setelahnya.
Tembok Berlin di Gerbang Brandenburg, 10 November 1989
Orang ber-Juggling di Tembok Berlin tanggal 16 November 1989
"Mauerspecht" (November 1989)
Seorang penjaga Jerman Timur berbicara pada seorang Jerman Barat melalui tembok yang bolong, akhir November 1989.
Penduduk Jerman Barat melihat-lihat di perbatasan dengan Jerman Timur di sebuah tembok yang bolong disertai dengan pengawas dari Jerman Timur.
Terlihat sebuah crane menghancurkan salah satu bagian dari Tembok Berlin di dekat Gerbang Brandenburg tanggal 21 Desember 1989
Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990.
Sedikit sisa Tembok Berlin di Potsdamer Platz, Maret 2009
Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Tembok Berlin adalah sebuah tembok pembatas terbuat dari beton yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur serta daerah Jerman Timur lainnya sehingga membuat Berlin Barat sebuah enklave. Tembok ini mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961. Tembok pembatas ini juga dibarengi dengan pendirian menara penjaga yang dibangun sepanjang tembok ini, juga pendirian sebuah daerah terlarang, yang diisi dengan ranjau anti kendaraan. Para pemerintah Jerman Timur menyatakan bahwa tembok ini dibangun untuk melindungi para warganya dari elemen-elemen fasis yang dapat memicu gerakan-gerakan besar, sehingga mereka dapat membentuk pemerintahan komunis di Jerman Timur. Meski begitu, dalam prakteknya, ternyata tembok ini digunakan untuk mencegah larinya penduduk Berlin Timur ke wilayah Berlin Barat, yang berada dalam wilayah Jerman Barat.

Sebelum pembangunan tembok ini, ada sekitar 3,5 juta warga Jerman Timur yang bermigrasi dan membelot ke barat, salah satunya dengan melewati perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat, lalu kemudian mereka pun bisa pergi ke negara Eropa Barat lainnya. Diantara tahun 1961 dan 1969, tembok ini pun mencegah hal itu. Di rentang waktu kira-kira 30 tahun ini, ada sekitar 5.000 orang yang mencoba kabur, dengan estimasi ada 100 sampai 200 orang yang meninggal karena ditembak.

Di tahun 1989, ada perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria. Setelah kerusuhan sipil selama beberapa minggu, pemerintah Jerman Timur mengumumkan tanggal 9 November 1989 bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Maka, kerumunan orang Jerman Timur pun menyeberangi dan memanjat tembok itu, diikuti pula dengan warga Jerman Barat di sisi lain untuk merayakan atmosfer kebebasan. Beberapa minggu setelahnya, euforia publik dan pemburu souvenir akhirnya meretakkan bagian-bagian tembok itu. Nantinya, sebagian besar tembok ini dihancurkan oleh pemerintah menggunakan alat berat. Kejatuhan dari Tembok Berlin membuka jalan terbentuknya Reunifikasi Jerman, 3 Oktober 1990.

Latar Belakang

Jerman Pasca-Perang Dunia II
Setelah berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, yang tersisa dari bagian barat Perbatasan Oder-Noisse dibagi menjadi 4 wilayah pendudukan (akibat Perjanjian Potsdam), masing-masing wilayah itu dikuasai oleh Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis, dan Uni Soviet. Ibukota Berlin, sebagai pusat kontrol, juga dibagi-bagi menjadi 4 wilayah meskipun kota ini sendiri terletak jauh di dalam kekuasaan Soviet.

Selama kurang lebih dua tahun, ada perubahan politik diantara Soviet dan anggota sekutu lainnya. Hal ini terjadi karena Soviet menolak setuju untuk rencana rekonstruksi kembali Jerman pasca-perang. Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Beneluks kemudian bertemu untuk menggabungkan kawasan-kawasan non-Soviet menjadi satu kawasan untuk direkonstruksi dan menyetujui perluasan dari Marshall Plan.

Pembangunan Tembok
Tembok ini didirikan pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht karena Berlin Barat adalah sebuah 'lubang' di negara mereka. Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran, karena kebanyakan orang-orang yang masih muda yang melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba tembok ini dibangun.

Map yang menunjukkan lokasi Tembok Berlin, sekaligus menunjukkan tempat pos pemeriksaan.

Tembok Berlin dan Perang Dingin

Tembok Berlin yang mengurung Berlin Barat dan memotong kota ini persis di tengahnya, menjadi simbol Perang Dingin yang paling terkenal. Banyak pembesar barat, terutama presiden Amerika Serikat yang mengunjungi tembok ini untuk mengutuknya. Presiden J.F Kennedy pada tahun 1963 datang dan berpidato di sisi tembok ini dengan kalimatnya yang ternama: "Ich bin ein Berliner." Lalu 20 tahun kemudian, pada tahun 1983 presiden Ronald Reagan juga berpidato di sini dan mengutuk Uni Soviet yang disebutnya An Evil Empire, atau sebuah kerajaan kejahatan. Tetapi pada tahun 1989, pada hari peringatan Republik Demokratis Jerman, atau Jerman Timur, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga sempat mengunjungi Tembok Berlin dan berkata pada pemimpin Jerman Timur Erich Honecker bahwa “Barangsiapa terlambat datang, akan dihukum oleh hidup”.

Pelarian Melalui Tembok Berlin

Selama Tembok Berlin berdiri, ada sekitar 5.000 orang yang berhasil melarikan diri. Jumlah orang yang tewas akibat mencoba kabur, sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut Alexandra Hildebrandt, Direktur Museum Pos Pemeriksaan Charlie, diperkirakan jumlah orang yang tewas adalah lebih dari 200 orang. Sebuah kelomok bersejarah di Center for Contemporary Historical Research (ZZF) di Potsdam mengkonfirmasikan bahwa ada 136 jumlah orang tewas. Sebelumnya, yang tercatat resmi adalah 98 orang yang dibunuh.

Runtuhnya Tembok Berlin

Setelah memperbolehkan celah bagi para penduduknya untuk melewati perbatasan di musim panas, Hungaria akhirnya secara efektif menghilangkan pembatas fisik negaranya dengan Austria tanggal 19 Agustus 1989. Di bulan September, lebih dari 13.000 orang Jerman Timur kabur ke Austria melalui Hungaria. Hal ini menyebabkan beberapa rentetan kejadian berikutnya. Orang Hungaria mencegah agar tidak semakin banyak orang Jerman Timur yang menyebrang perbatasan, dan mengembalikan mereka ke Budapest. Orang-orang Jerman Timur ini memenuhi kedutaan Jerman Barat dan menolak untuk kembali ke Jerman Timur. 

Pemerintah Jerman Timur menanggapi hal ini dengan menutup semua perjalanan ke Hungaria, tapi masih memperbolehkan mereka yang mau kembali ke Jerman Timur. Pada kesempatan kali ini, otoritas Jerman Timur memperbolehkan mereka untuk pergi, asalkan saja nanti kereta yang mereka pakai melewati Jerman Timur. Maka muncullah demonstrasi besar-besaran di Jerman Timur sendiri. (Lihat Demonstrasi Senin di Jerman Timur.) Pemimpin Jerman Timur, Erich Honecker, mengundurkan diri tanggal 18 Oktober 1989 dan digantikan oleh Egon Krenz beberapa hari kemudian. Honecker telah memprediksi bahwa tembok itu masih akan bertahan sampai 50 atau 100 tahun lagi, jika kondisi negara itu tidak berubah.

Protes demonstrasi pecah di seluruh Jerman Timur bulan September 1989. Pada awalnya, para pemrotes ingin pergi menuju ke barat, sambil meneriakkan "Wir wollen raus!" ("Kami mau pergi!"). Tapi lalu para pemrotes mulai berteriak "Wir bleiben hier", ("Kami akan tetap di sini!"). Maka, ini adalah awal dari apa yang disebut orang Jerman Timur sebagai "Revolusi Damai" di akhir 1989. Para pemrotes semakin besar di awal November. Para pemrotes mencapai puncaknya pada tanggal 4 November, ketika hampir setengah juta orang berkumpul di Demonstrasi Alexanderplatz. (Henslin, 07)

Sementara itu, para pengungsi yang meninggalkan Jerman Timur ke Jerman Barat semakin meningkat, dan mereka menemukan jalan baru untuk keluar dari Jerman Timur, yaitu dengan cara melalui Hungaria via Cekoslowakia (atau via Kedutaan Jerman Barat di Prague) yang diizinkan oleh pemerintahan Krenz yang baru, dan dengan persetujuan dengan pemerintah komunis Cekoslowakia. Agar keadaan tidak semakin rumit, akhirnya politbiro yang dipimpin oleh Krenz memperbolehkan para pengungsi untuk keluar langsung melalui pintu perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat, termasuk Berlin Barat pada tanggal 9 November 1989.

Penghancuran

Tanggal ketika tembok ini mulai dihancurkan adalah 9 November 1989, tapi saat itu tembok ini tidak langsung dTihancurkan saat itu juga. Di sore itu dan beberapa minggu setelahnya, orang-orang datang membawa palu godam dan sejenisnya untuk menghacurkan beberapa bagian tembok dan juga menciptakan beberapa lubang perbatasan yang tak resmi. Orang-orang ini disebut sebagai "Mauerspechte" (pelatuk tembok).

Rezim Jerman Timur kembali mengumumkan bahwa mereka akan membuka 10 pintu perbatasan baru, termasuk di beberapa tempat bersejarah seperti Potsdamer Platz, Glienicker Brücke, dan Bernauer Straße. Massa dari 2 sisi menunggu berjam-jam, bersorak-sorai ketika buldoser menghancurkan tembok ini. Pintu perbatasan baru terus dibuka sepanjang tahun 1990, termasuk di Gerbang Brandenburg tanggal 22 Desember 1989.

Penduduk Jerman Barat dan Berlin Barat diperbolehkan masuk Jerman Timur tanpa visa mulai 23 Desember 1989. Sampai tanggal itu, mereka hanya diperbolehkan masuk dengan berbagai persyaratan dan diharuskan membuat aplikasi untuk pembuatan visa. Selain itu, mereka diharuskan membayar minimal 25 DM per harinya. Maka, sebenarnya pada tanggal 9 November dan 23 Desember ini, penduduk Jerman Timur lebih bebas daripada Jerman Barat. Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990.

Pemberitaan di televisi tentang banyaknya penduduk yang menghancurkan banyak bagian tembok tanggal 9 November membuat banyak orang di luar negeri berpikir bahwa tembok ini akan dihancurkan secepatnya. Sebenarnya, tembok ini tetap dijagai sampai beberapa hari kemudian, meskipun intensitas penjagaan semakin kecil. Di bulan pertama itu, malahan militer Jerman Timur berusaha untuk memperbaiki kembali tembok yang dihancurkan oleh para "pelatuk tembok". Lalu, seiring berjalannya waktu, tindakan ini dihentikan, dan para penjaga semakin toleran dengan aksi penghancuran tembok dan perginya penduduk melalui tembok yang lubang.

Tanggal 13 Januari 1990, tembok ini resmi dihancurkan oleh militer Jerman Timur, dimulai di Bernauer Straße. Penghancuran tembok ini kembali diteruskan setelah Reunifikasi Jerman sampai akhirnya selesai bulan November 1991. Hanya sedikit bagian tembok dan menara tetap dipertahankan, sebagai tempat memorial. Jatuhnya Tembok Berlin merupakan awal dari Reunifikasi Jerman, yang ditandatangani tanggal 3 Oktober 1990.

Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Menurut Rustam Kastor dalam bukunya, Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon-Maluku (Wihdah Press: 2000 M), sejatinya sejarah konflik antara kaum salibis dengan umat Islam adalah sebuah sejarah perlawanan yang cukup panjang. Sejarah ini sudah berjalan ratusan tahun dengan melibatkan banyak energi dan pengkajian. Jauh sebelum Bangsa Eropa tiba di Maluku, para saudagar Nusantara telah berdagang penuh kedamaian dengan masyarakat atau kerajaan-kerajaan Islam di Maluku.

Jemaat Kristen Protestan Kota Ambon usai beribadah minggu di Gereja Protestan pada tahun 1923. Lokasi gerejanya saat itu di kawasan Pecinaan (China Town). Sekarang daerah ini adalah kawasan perdagangan A.Y. Patty. Lokasi gerejanya tepatnya adalah Gedung Puskud Ambon saat ini (depan eks Toko Lily)(foto dok)
Penyebaran agama Islam pun dilakukan dengan penuh perdamaian, sehingga relatif segenap masyarakat Maluku telah memeluk agama Islam. Namun, pada tahun 1512 mulailah bangsa Portugis menemukan Maluku (Banda) dengan maksud mendapatkan rempah-rempah langsung di bumi penghasilnya, hingga kemudian datanglah penjajah Belanda pada tahun 1605.

Perlawanan Fisik Bersenjata

Perdagangan yang semula damai, berkembang menjadi bentrokan fisik karena sikap monopoli yang disertai penyebaran agama Kristen oleh pihak Belanda dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Dari situ mulailah terjadi sejumlah peperangaan yang bukan saja semata-mata demi mempertahankan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, tetapi juga berjuang mempertahankan aqidah agama Islam.

Perlawanan dari Kerajaan-kerajaan Islam seperti Perang Hitu (1502-1605), Perang Banda(1609-1621), Perang Hoamual (1625-1656), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapaha (1636-1646), Perang Alaka (1625-1637), Perang Iha (1632-1651), dan sejumlah perang yang dilancarkan oleh beberapa kesultanan di Maluku Utara, dan terakhir Perang Tidore (1780-1805) yang dipimpin oleh Nuku yang sempat menunjukkan kekuatan dan kebesarannya.

Sejumlah pahlawan perang Ummat Islam seperti Pattiwane, Kakiali, Gimelaka Laliato, Gimelaka Lulu, Tulukabessy, Kiayi Lessy, Rijali, Khairubia, Kapitan Ulupaha, Sudardi Monia Latuwirinnyai, Sultan Babullah, Sultan Khairun dan terakhir Sultan Nuku adalah para pemimpin perang yang gagah berani mampu mengalahkan penjajah di banyak medan pertempuran.

Namun pada gilirannya, Kerajaan-kerajaan Islam, secara bertahap dapat dikalahkan oleh VOC yang kemudian menjadi Kompeni menggantikan kedudukan Portugis, dengan memiliki armada dan kekuatan perang yang tangguh. Kala itu pula, kegiatan perdagangan diwarnai dengan missi penginjilan secara paksa yang dimulai dengan perkumpulan dagang VOC. Maka saat itu jua, perlawanan masyarakat dan kerajaan Islam di Maluku berkembang menjadi sebuah medan jihad mempertahankan aqidah.

VOC dan Kompeni Penjajah

VOC sebagai organisasi dagang, selanjutnya digantikan oleh Kompeni dengan kekuatan bersenjata yang cukup besar. Hal ini kemudian menjadikan ekskalasi penindasan terhadap Ummat Islam di Maluku mengalami peningkatan. Kekejaman yang mereka lakukan pun memiliki kekejaman tiada tara. Sampai-sampai umat muslim tidak kuasa lagi untuk menerimanya. Namum meski hidup dalam penindadsan, perlawanan umat muslim terus berlanjut, ya walau mereka tidak mampu lagi untuk mengangkat senjata.

Perlawanan Non Fisik/Tak Bersenjata

Kerajaan-kerajaan Islam di Maluku telah berhasil dihancurkan satu demi satu, tetapi tidak demikian dengan jiwa jihad umat muslim. Semangat kebencian mereka terhadap penjajah yang telah merenggut kemerdekaan sekaligus memaksakan keyakinan yang bertentangan dengan paham ke-Tauhidan Islam terus berjalan seiring waktu.

Selanjutknya, bersamaan dengan kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, maka terjadilah peperangan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan melawan kolonial Belanda. Kerajaan-kerajaan inipun mengalami nasib yang sama: mereka berhasil dikalahkan dan akhirnya dapat ditaklukkan oleh pihak kafir Belanda.

Para pejuang yang tertangkap pun akhinya dibuang ke berbagai daerah di luar Jawa diantaranya Maluku. Sebagai pejuang, mereka tidak pernah mau berhenti memerangi kaum kafir Belanda. Dengan modal semangat perlawanan (pejuang) dan keahlian ilmu agama Islam (Kiyai), mereka masuk ke dalam Ummat Islam di Maluku dengan alasan kegiatan keagamaan, tetapi sesungguhnya mereka memimpin dan menggerakkan perlawanan terhadap Belanda secara non fisik/tanpa bersenjata.

Terakhir yang bisa kita catat dari fakta ini adalah kedatangan Pangeran Diponegoro dengan rombongan dalam status buangan Belanda. Bersama para pengikutnya, Pangeran Diponegoro pun berdiam di kampung yang sekarang bernama Kampung Diponegoro.

Para pejuang ini pun kemudian memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan yang memberikan pukulan berat bagi pihak penjajah. Perlawanan non kooperatif/pembangkangan, adalah sebuah bentuk perlawanan yang dilakukan secara diam-diam, yakni menolak bekerjasama dalam bentuk apa pun dengan penjajah serta merongrong pada aspek-aspek tertentu dengan tujuan melemahkan dan menggerogoti wibawa serta kekuatan pemerintah Belanda.

Perlawanan ini efektif pada 20-30 tahun pertama, saat para pemimpinnya aktif memberikan petunjuk, arahan dan dorongan semangat. Namum perlawanan yang memakan waktu seratus tahun lebih tersebut menjadi kurang efektif, sebab kurang memiliki daya tahan. Pasalnya sederhana, tidak ada sebuah pembentukan kader dan pemimpin lapangan yang akan melanjutkan perlawanan tersebut. Kegagalan membentuk pemimpin pelanjut inilah yang mengakibatkan perlawanan menjadi kurang terarah dan tidak punya tujuan yang jelas. Yang terjadi adalah semangat mereka untuk tidak mau bekerja sama dan membangkang saja, tanpa mekanisme perjuangan yang rapih.

Uniknya umat Islam masih bertahan. Pada waktu itu tidak ada Ummat Islam yang bersedia menjadi serdadu Belanda, maupun menjadi guru dan pekerjaan-pekerjaan yang senantiasa berada di bawah kendali Belanda. Ummat Islam lebih memilih pekerjaan non formal seperti nelayan, pedagang kecil (wiraswasta), tukang dan sejenisnya. Bahkan bersekolahpun ditolak, Ummat Islam lebih memilih pengajian dan Madrasah.

Di luar Maluku, orang lebih mengenal orang Ambon adalah Kristen, hal ini disebabkan oleh serdadu Belanda asal Maluku yang bertugas di luar Maluku (Jawa, dsbnya) relatif tidak ada yang beragama Islam, sehingga terjadi opini bahwa Ambon identik dengan nashrani.

Dalam kisah perlawanan tanpa senjata ini, barangkali perlu kita telusuri adanya beberapa marga (Vam) di kota Ambon yang bukan marga asli dari Maluku seperti Betawi, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Diponegoro, Aceh dan sebagainya. Yang jelas marga tersebut menunjukkan darimana mereka berasal, sebab waktu itu semua orang harus mempunyai vam, mereka yang tidak mempunyai vam memilih daerah asal mereka sebagai Vam.

Siapakah mereka ini, sekurang-kurangnya sebagiannya adalah para pejuang yang dibuang oleh Belanda dulu. Mereka adalah para pejuang yang memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan/non kooperatif. Mengenai fakta ini, Rustam Kastor dalam bukunya Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon-Maluku, menulis.

"Tanyalah para tetua kita, bagaimana orang Waihaong, Talake,Silale, Soabali, Batu Gajah (Diponegoro) Batu Merah, Pardeis dsb belajar silat? Mereka belajar tertutup dalam rumah atau di halaman belakang agar tidak diketahui kaum Nasrani. Bila ada Nasrani yang datang, latihan segera dihentikan agar tidak diketahui jurus-jurusnya. Jadi para tetua itu belajar untuk menghadapi Penjajah Belanda (dibenaknya) dan kaum Nasrani. Persis seperti kisah dalam serial film Si Pitung dari Marunda."

Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berlangsung lebih 100 tahun itu, sebagian besar terjadi tanpa koordinasi, bahkan tanpa pemimpin yang jelas sehingga semangat melawan pemerintah kolonial tanpa disadari, berubah arah dan tujuannya.

Banyak kerugian yang diderita Ummat Islam akibat proses perjuangan panjang tanpa koordinasi dan pimpinan ini. Dan pada akhirnya hal ini menghasilkan kondisi yang amat tidak menguntungkan seperti yang kita alami sekarang.

Ummat Islam di Maluku tertinggal hampir di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara fisik, baik tampak maupun yang tidak tampak tetapi terasa sebagai suatu kenyataan. Setelah Indonesia merdeka, Ummat Islam di Maluku mencapai banyak kemajuan disemua sektor, tetapi kita harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Ummat Kristen, ummat Islam masih terlalu terlambat, ibarat berlomba dengan kaum yang menggunakan kendaraan, sedang kita berjalan kaki.

Dengan demikian jarak ketertinggalan Ummat muslim dari hari ke hari kian jauh, sehingga barangkali kondisi ini dapat memicu kecemburuan sosial. Di sisi lain kemajuan yang diperoleh Ummat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi pihak Kristen yang walaupun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungguhnya tak seberapa besar), maka kerukunan yang selama ini terjalin mulai goyah. Pihak Kristen melakukan aksi penghambatan dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis.

Ketidak adilan ini semakin terasa, sementara yang Islam hanya dapat merasakan tetapi tidak ada upaya nyata untuk mengatasi persaingan itu. Lebih diperparah lagi, bahwa barisan Ummat Islam masih tercerai berai dan terjadi pendangkalan akidah yang kuat akibat tipu daya dunia. (pz)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Sejumlah pengamat intelijen di antaranya AC Manullang dengan tegas menyatakan sinyal elemen keterlibatan asing, khususnya Amerika, dalam konflik Ambon. Kepentingan Amerika menurut Manullang untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia memang sarang teroris. Karena serangan kelompok kristen akan dibalas oleh kelompok Islam. Dan saat itulah, kelompok Islam mendapatkan stigma teroris.

Sinyalemen ini memang cukup kuat. Terlebih momen meletusnya konflik yang bertepatan dengan kampanye anti teroris (atau Islam) Amerika pada 11 September. Tapi pertanyaannya, kenapa Ambon? Tidak Bali, Manado, Papua, atau lainnya yang sama-sama memiliki potensi konflik Islam dan non Islam.

Ada sejumlah kondisi sosio-kultural Ambon yang memang mempunyai potensi konflik Islam Kristen yang lebih besar daripada daerah lain di Indonesia.

Pertama adalah jumlah warga muslim dan kristen protestan bisa dibilang fifty-fifty, atau hampir sama. Tempat ibadah di Provinsi Maluku pada tahun 2008 adalah Gereja Protestan 1.188 buah, Mesjid 780 buah, Gereja Katolik 442 buah, Pura 14 buah dan Wihara 8 buah. Dan dari tahun ke tahun, jumlah umat Islam terus bertambah.

Selain itu, persoalan friksi sosial karena agama di Ambon dan Maluku memang bukan hal baru. Jauh sebelum ini, di masa kolonial Belanda yang beragama kristen protestan, kerap memanfaatkan agama untuk ekspansi kolonialisasi ke berbagai daerah di sekitar Maluku. Bahkan, Belanda memanfaatkan kristen protestan Maluku untuk dijadikan tentara resmi kolonial.

Sejarah mencatat, untuk memukul mundur Portugis dari tanah Maluku, Belanda memanfaatkan sentimen konflik Protestan Katolik. Pada tahun 1605, Belanda yang menganut Kristen Protestan merebut benteng Portugis dan mengusirnya. Ketika terjadi perang reformasi di Eropa, orang Belanda yang Protestan memerangi dan membasmi orang-orang Portugis yang Katolik.

Kedua, adanya hubungan dekat antara warga Ambon yang beragama Protestan dengan negara asing, khususnya Belanda. Kedekatan ini bahkan sudah menjadi hubungan darah dengan perkawinan lintas negara yang terjadi sudah sekian lama. Dan kedekatan inilah, sejarah memperlihatkan, bahwa secara emosional, warga Ambon Protestan umumnya lebih dekat dengan Belanda daripada Indonesia.

Hal ini ditandai dengan sambutan proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Waktu itu, warga Maluku khususnya Ambon Protestan umumnya tidak menyambut dengan sukacita. Justru, pada tanggal 24 April 1950, Dr. Soumokil memproklamirkan Republik Maluku Selatan (RMS) di wilayah Ambon saat ini.

Boleh jadi, para aktivis RMS belajar dari konflik Timor timur. Dengan terjadinya konflik antar agama yang terus-menerus, mereka bisa mengambil dua keuntungan. Pertama, pengurangan warga muslim yang sudah pasti non RMS dari wilayah mereka, baik status kewargaan dan akses ekonomi. Kedua, menjadi sorotan internasional yang memperlihatkan bahwa orang-orang Protestan yang menjadi warga minoritas, jika dilihat dari cakupan Indonesia, ditekan oleh warga mayoritas Indonesia yang berarti muslim.

Dari sinilah, tuntutan merdeka akan punya nilai jual yang sangat tinggi dari sudut pandang emosi dunia internasional. Dan pada titik ini, posisi tawar pemerintah pusat menjadi begitu lemah jika berhadapan dengan tekanan luar negeri.

Pertanyaannya, seberapa seriuskah pemerintah melakukan pemberantasan terhadap aktivis-aktivis RMS yang terus bergerak di Ambon. Karena RMS-lah yang menjadi pangkal persoalan konflik yang akan terus menjadi bom waktu di negeri kaya rempah-rempah dan objek wisata itu. mnh

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Arab Saudi—negara Arab terbesar kedua—dengan kekuatan ekonomi terkaya di bidang minyak, saat ini tengah gemetar. Rakyat Arab Saudi, yang merupakan negara terbesar di kawasan Timur Tengah, tertidur karena takut kepada Sadr. 26 juta warga orang di kerajaan itu, dari timur ke barat, dan dari selatan ke utara, telah bergetar sejak pemimpin gerakan Sadr di Irak, Moqtada al-Sadr, mengancam akan menyerbu dan membakar negara mereka. Kebencian buta dan chauvinistik telah mencapai puncaknya.

Moqtada Al-Sadr tengah menjadi komoditas Syiah Iran sekarang ini. Ketika revolusi Timur Tengah meletus, Bahrain sejenak terlupakan.

Senin awal pekan ini, Al-Sadr mengancam akan menyerang dan membakar Arab Saudi jika Syiah Bahrain diganggu. Media membuat pernyataan-pernyataannya yang keterlaluan, lepas dari unsur penghargaan terhadap bangsa Arab: "Jika satu rambut di kepala Ayatullah Sheikh Ahmed Isa Qasim disentuh, kami akan masuk ke Arab Saudi dan membakar negara itu." Ini dikatakan untuk menanggapi pesan yang ditujukan oleh menteri kehakiman Bahrain yang menuduh Qasim sebagai penghasut sektarianisme dan merusak persatuan nasional di negaranya.

Saudi tentu tidak akan merespon dalam cara provokatif yang sama –yang sengaja digunakan oleh Al-Sadr, dan juga hampir semua penganut Syiah dalam pernyataan-pernyataannya—karena ia selalu mengatakan: "Kami akan mencabut janggut, memotong lidah, menghancurkan gigi, dan merobek hati Anda"—(Betul, seperti Ahmadinejad yang mengatakan hal-hal seperti itu kepada orang-orang Yahudi, entah sejak zaman-tahu-kapan, namun sampai saat ini tak pernah ada bukti).

Namun, rakyat Arab Saudi akan merespon dengan suara bulat (yakni kaum Sunni) dan berkata: “Silakan jika Anda bisa melakukan hal itu, sehingga Anda akan belajar hal baru mengenai fakta bahwa Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya tidak akan sedikitpun menurunkan dinding agar bisa melompat atau menyerang Iran, dan Anda akan menemukan orang-orang yang tidak bisa menoleransi seorang dengan penyakit"sindrom kakaktua" dan merusak kedaulatan sebuah negara.”

Sadr paham betul realitas situasi di Bahrain. Maka tidak heran jika Al-Sadr begitu berani mengecam penangkapan Qasim. Namun, Sadr melebihi batas kesusilaan. Selama ini Sadr selalu bersembunyi dengan kedok Islam-nya, namun jelas identitas Syiah-nya tak bisa diabaikan lewat pernyataan-pernyataannya yang begitu vulgar dalam membunuh orang Sunni Bahrain.

Al-Sadr mungkin berpikir bahwa negara-negara wilayah Teluk tidak tahu jejak rekamnya yang "gelap" dan bahwa ia melakukan pembunuhan massal terhadap kaum Sunni di Baghdad, di Diyala, dan provinsi-provinsi selatan Irak lainnnya, selain juga loyalitas pribadi Sadr kepada Iran daripada Irak—negara di mana ia tinggali.

Sebenarnya mudah untuk menakar Sadr. Cukup dengan satu pertanyaan sederhana: "Jika Anda adalah seorang Arab yang benar-benar peduli terhadap kepentingan Arab, mengapa Anda tidak peduli tentang orang-orang Arab Ahwaz, yang oleh Iran dihinakan? Jika Anda adalah seorang Arab, mengapa Anda tidak mengatakan apa-apa dalam hal status Sunni di Iran setelah mereka dicegah oleh pemerintah Iran untuk melakukan shalat Idul Fitri di beberapa daerah Teheran, dan setelah rumah-rumah mereka dikepung karena melakukan shalat ied bersama—hanya sepekan lalu?"

Jika Al-Sadr terus merugikan orang lain, jelas ia adalah seorang Arab yang "sakit." Ada pepatah Arab yang sangat terkenal: “Siapapun yang bermulut besar, maka dia akan jadi hinda-dina.” Jika selama ini Sadr merasa Syiahnya telah cukup kuat, akan ada waktu baginya sekarang ini bahwa ia tengah menunggu lubang kuburnya sendiri dengan dada dan tangannya. (sa/daralhayat)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Bentrok antara warga Muslim dan Kristen meletus lagi di kota Ambon. Menurut berita berawal terbunuhnya dua orang tukang ojek muslim di Gunung Nona. Kematian dua orang tukang ojek muslim itu, kemudian meledak menjadi konflik antara warga Muslim dan Kristen di kota Ambon Manise.

Peristiwa ini seperti mengulangi episode yang pernah terjadi di tahun 1999. Di mana peristiwa saat itu tepat pada hari Idul Fitri. Kaum Muslimin yang sedang bersuka-cita merayakan Idul Fitri, tiba-tiba diserang oleh orang-orang Kristen. Mereka menyerang kampung-kampung Muslim, dan menghancurkan masjid-masjid. Termasuk ada masjid-masjid yang ditulisi dengan kata-kata kotor, menghina Nabi Shallahu alaihi wassalam, dan dinding masjid digambari babi.

Peristiwa Idul Fitri di tahun 1999, berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dan meluas di berbagai wilayah Maluku, termasuk di Maluku Utara. Orang-orang Kristen di Maluku Utara melakukan penghancuran terhadap kampung-kampung Muslim, dan membunuhi warganya. Mereka sangat agresif. Menggunakan senjata, menghancurkan orang-orang Muslim di wilayah itu. Salah satu daerah yang dihancurkan di Maluku Utara adalah kota Tobelo, yang banyak meninggalkan korban dari kalangan Muslim.

Orang-orang Kristen ingin melakukan "cleansing" terhadap komunitas Muslim di Ambon. Mereka mengklaim Ambon identik dengan Kristen. Karena itu, ketika kamunitas Muslim menjadi sebuah entitas (kekuatan) yang eksis, maka langkah yang mereka lakukan ingin menjadikan Muslim di Ambon dan Maluku menjadi "zero" (nol). Dengan kekuatan senjata yang mereka miliki.

Sejatinya orang-orang Kristen itu menjadi "proxi" (tangan) penjajah, dan kemudian menjelma menjadi Gerakan RMS (Republik Maluku Selatan), dan tak pernah secara de facto dan de jure mengakui eksistensi Negara Republik Indonesia. Mereka sebuah entitas politik, yang masih tetap berpegang memori yang sifatnya emosional, yaitu sebuah "enclave" (kantong) Kristen, yang lahir sejak datangnya penjajah Eropa di wilayah itu. Maka, entitas RMS itu sifatnya permanen dan laten, dan mereka tetap ingin menegakkan RMS dengan segala cara.

Tokoh RMS yang sangat terkenal Alex Manuputty, sekarang tinggal New York, di Amerika, dan terus melakukan gerakan politik, dan ingin mendapatkan pengakuan atas eksistensi RMS di Maluku oleh PBB. Tentu, langkah-langkah ini, diperjuangkannya secara sistematis, terencana, dan segala bentuk konspirasi serta manipulasi untuk mencapai tujuan yang hendak tegakkan.

Di manapun entitas Kristen yang berada di negeri-negeri Muslim, selalu menggunakan skenario konflik agama, dan kemudian mengharapkan campur tangan internasional, dan tujuan terakhir mereka memisahkan diri. Mereka membuat manipulasi informasi, sebagai fihak yang dizalimi sebagai minoritas.

Seperti peristiwa yang terjadi di tahun 1999, ketika terjadi titik balik, akibat perlawanan yang dilakukan oleh komunitas Muslim terhadap komunitas Kristen yang melakukan serangan, maka mereka membuat opini dan laporan, sebagai fihak yang dizalimi oleh kelompok miyoritas Muslim. Mereka membuat laporan kepada Komisi Hak Asasi Manusia di Parlemen Eropa dan PBB. Sehingga, terjadi pembalikkan opini terhadap peristiwa yang terjadi di Ambon. Kemudian orang-orang Muslim, yang mempertahakan hidup mereka menjadi tertuduh, dan sebagai kelompok teroris.

Peristiwa Ambon tahun 1999, di masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie itu, nyaris akan mengundang intervensi fihak militer Amerika Serikat, yang kala itu sudah menempatkan pasukan angkatan lautnya di perairan Ambon.

Situasi selanjutnya, fihak yang disalahkan adalah komunitas Muslim, dan bahkan fihak aparat keamanan di Ambon, melakukan langkah-langkah deteren (penghancuran) terhadap kekuatan-kekuatan Muslim, yang ingin menjaga keberadaan komunitas Muslim, di wilayah itu. Entitas Muslim menjadi tertuduh sebagai kelompok ekstrim. Bersamaan dengan itu, ada perintah penarikan pasukan "Laskar Jihad" yang dipimpin Ja'far Umar Thalib dari Ambon, dan kemudian laskar itu dibubarkan, yang semula terlibat dalam menjaga dan melindungi entitas Muslim Ambon.

Hal ini terjadi pula di Poso. Di mana entitas Muslim di Poso dihancurkan dan dan dibantai. Perempuan dan anak-anak, serta orang tua dibantai. Ratusan orang dibunuh dengan keji oleh milisi "Kelawar" yang dipimpin oleh Tibo, tapi kemudian yang menjadi tersangka dan tertuduh adalah kelompok Muslim, sebagai teroris. Bahkan, bagaimana di Poso digambarkan oleh pihak aparat keamanan dan intelijen, sebagai tempat latihan teroris, dan mengundang perhatian yang sangat luar biasa dari dunia internasioal terhadap Poso.

Meledaknya peristiwa di Ambon ini bersamaan dengan peringatan satu dekade (10 tahun) peristiwa 11 September, di mana di Amerika Serikat sedang berlangsung peringatan atas peristiwa runtuhnya Gedung WTC.

Adakah ini memiliki korelasi dengan peristiwa yang sekarang diperingati di Amerika Serikat, dan ingin tetap melestarikan peritiwa itu, serta menjadikan kaum Muslim sebagai biang kekerasan dan terorisme?

Padahal, mantan Perdana Menteri Malaysia Dr.Mahathir Mohammad, menyatakan dengan sangat tegas, bahwa peristiwa 11 September 2001, sebagai produk kebohongan yang dibuat oleh Presiden George Walker Bush, yang bertujuan untuk menjajah dan menguasai negara-negara Islam, seperti Irak dan Afghanistan dengan jalan militer.

Unsur-unsur lokal selalu ada yang bersedia menjadi alat penjajah yang ingin menjadikan Indonesia bercerai-berai atau mengalami destintegrasi dengan jalan menciptakan konflik, dan kemudian fihak asing melakukan campur tangan, seperti yang terjadi di Timor-Timur atau Sudan Selatan, kemudian melalui referendum, mereka memisahkan diri dengan negara induknya. Apalagi, Indonesia negara kepulauan, yang sangat rentan terjadinya desintegrasi. Wallahlu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Perdana Turki Recep Tayyib Erdogan, yang disertai keluarganya, dan Menteri Luar Negeri Ahmed Datutoglu akan melakukan kunjungan ke Somalia, dalam beberapa hari mendatang. Hal itu, disampaikan oleh Erdogan di depan para pemimpin AKP.

Erdogan menegaskan, segera akan mengunjungi Somalia, beberapa hari mendatang, "sambil melihat situasi di negaranya", ujarnya. Erdogan berbicara di depan sejumlah pimpinan AKP, Rabu kemarin. Kunjungannya ke Somalia itu, dijadwalkan akan disertai keluarganya, dan Menlu Ahmed Davotuglu. "Kami melakukan persiapan membantu Somalia yang sekarang menjadi korban kelaparan", tukasnya.


Sementara lembaga bantuan Turki, Turkish International Cooperation and Development Agency (TİKA), ylang dipimpin Serdar Çam, menegaskan akan membuka perwakilan TIKA di Somalia, dan akan membantu rakyat Somalia yang terancam kelaparan yang hebat saat ini. Langkah ini diambil oleh Erdogan sebagai bagian dari usahanya untuk terlibat aktif dalam dunia internasional, khususnya menghadapi krisis, diberbagai belahan dunia. .

Selain lembaga kemanusiaan TİKA, lembaga kemanusiaan lainnya, yang menjad bagian dari pemerintah juga melakukan langkah membuka kantor perwakilan di Somalia. Bulan Sabit Merah Turki, Red Crescent Society (Kızılay) yang dipimpin oleh Ömer Taşlı, telah mengunjungi kamp-kamp pengungsi Selasa, kemarin, ujar kantor berita Turki, Anatolia.

Turki merupakan negara pertama yang melakukan kunjungan ke Somalia. Kunjungan pemimpin Turki, yang dipimpin Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan, dan Menlu Ahmed Davutoglu, menjadi bagian penting perhatian Turki terhadap dunia Islam. (mas/wb)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Dan ketika mereka sedang mengirim utusan untuk menyingkirkan Ibu Suri Dong, Pasukan sedang disiapkan ditempat kediaman "PAMAN KAISAR" Dong Cheng. Mereka mengambil tanda penugasannya dan dia mengetahui bahwa ini adalah akhir hidupnya maka melakukan bunuh diri.

Kasim Zhang Rang dan Duan Gui yang mengetahui akan kehilangan pelindungnya segera mengirimkan hadiah yang besar kepada adik He Jin yang bernama He Miao dan kepada ibunya Lady WuYang dan itu membuat mereka mendapatkan perlindungan.

Pada bulan ke-6 tahun itu, utusan rahasia He Jin meracuni permaisuri Dong di kediamannya. Tubuhnya dibawa kembali ke ibu kota dan dikuburkan di makam kerajaan. He Jin berpura - pura sakit dan tidak menghadiri pemakaman itu.

Yuan Shao suatu hari pergi menemui He Jin dan berkata "Kedua Kasim itu, Zhang Rang dan Duan Gui telah menyebarkan isu di luar sana bahwa kaulah yang telah menyebabkan kematian Ibu Suri Dong dan kau ingin mengincar kursi kekaisaran. Ini adalah alasanmu agar kau dapat menghancurkan mereka. Jangan berikan ampun kali ini atau kau akan seperti Dou Wu dan Chen Fan, yang dalam pemerintahan sebelumnya gagal karena rencanamu tidak dirahasiakan dengan baik. Sekarang kau dan adikmu mempunyai banyak pejabat dan jenderal di belakang kalian, jadi menghancurkan kasim – kasim itu hanyalah perkara mudah saja. Ini adalah jalan dari langit, jangan disia-siakan!"

Tetapi He Jin membalas "Biar aku pikir – pikir dulu."

Pelayan He Jin yang mendengar pembicaran itu segera memberitahukan pada para kasim yang akhirnya mengirim hadiah lagi pada He Miao.

He Miao akhirnya berbicara pada kakaknya Permaisuri He dan berkata "Jendral Yuan Shao adalah penopang utama kaisar yang baru. Tapi dia tidak dapat bertindak berbelas kasih dan hanya memikirkan pembantaian, kalau dia membunuh para kasim tanpa sebab maka akan terhadi kekacauan."

Tak lama setelah itu He Jin masuk dan mengatakan pada Permaisuri He rencananya untuk memusnahkan para kasim.

Permaisuri He tidak setuju dan berkata "Para kasim itu telah melayani kaisar terdahulu dengan baik, untuk membunuh mereka setelah kematian kaisar terdahulu akan tampak seperti tidak menghormati dinasti."

Dan ketika He Jin sedang berpikir, Yuan Shao datang dan menghampiri.

"Jadi bagaimana dengan rencana itu ?" Kata Yuan Shao ketika bertemu dengan He Jin.

"Adikku tidak mau mengijinkan, apa yang dapat kita lakukan ?"

"Panggilah tentara dan bunuh mereka semua, ini adalah keharusan. Tidak usah pikirkan ijin dari adikmu."

"Rencana yang bagus" kata He Jin dan dia mengirimkan perintah kepada semua pasukan yang ada disekitar ibukota untuk masuk ke dalam ibu kota.

Tetapi Menteri Chen Lin keberatan, " Jangan, jangan bertindak gegabah. Pepatah mengatakan "Untuk Menutup Mata Dan Menangkap Burung Adalah Sebuah Tindakan Bodoh", Jika dalam masalah kecil saja kau tidak dapat mengendalikan emosimu bagaimana dalam masalah - masalah besar ? sekarang karena kebajikan kaisar dan pasukan yang telah kau pegang, kau ini seperti naga dan harimau. Kau boleh melakukan semua hal sesukamu. Untuk menggunakan semua kekuatan ini melawan para kasim itu sama seperti memanggil petir hanya untuk menghanguskan sepotong kain. Memanggil tentara dengan jumlah sekian besar masuk ke ibu kota dan memanggil jenderal serta pemimpin – pemimpin yang begitu banyak masing - masing dengan rencana dan ambisinya sendiri - sendiri itu sama seperti mengarahkan senjata pada diri sendiri, untuk menempatkan diri kita pada kekuasaan orang lain itu tidak akan mendapatkan hasil apa – apa kecuali kehancuran diri sendiri."

"Ini adalah pandangan dari seorang kutu buku" kata He Jin dengan tersenyum.

Kemudian salah satu dari orang - orangnya He Jin menepuk tangannya dan tertawa seraya berkata, "Memecahkan masalah ini semudah membalikkan telapak tangan, mengapa kita terlalu banyak berbicara ?"

Orang yang berbicara itu adalah Cao Cao.
Bersambung...

Sumber: http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Tetapi di depan gerbang istana, He Jin diperingatkan oleh komandan pasukan penjaga istana Pan Yin yang berkata "Ini pasti jebakan Jian Shuo untuk menyingkirkanmu !"

He Jin mendengar hal itu langsung pulang ke kediamannya dan memanggil pejabat dan menteri yang berada di pihaknya. Mereka menyusun rencana bagaimana menyingkirkan kasim - kasim istana itu.

Dalam rapat ini tiba - tiba seseorang berkata menentang rencana tersebut, "Pengaruh dari kasim itu telah ada sejak 1,5 abad yang lalu pada masa pemerintahan kaisar Cong dan Zhi. Hal itu telah menyebar seperti rumput di semua arah. Bagaimana kita berharap dapat menghancurkan mereka? Dan di atas semua itu hal ini harus dirahasiakan atau kita semua akan mati terbunuh."

He Jin melihat orang itu dan ternyata orang itu adalah Komandan Militer pasukan reguler Cao Cao.

He Jin sangat marah pada ucapan Cao Cao dan berkata, "Siapa orang dengan jabatan rendah seperti kau mengetahui tentang jalannya pemerintahan?!"

Dan dalam kekacauan Pan Yin datang dan berkata, "Kaisar telah mangkat, kasim-kasim itu telah memutuskan untuk merahasiakan kematian itu dan sedang membuat titah palsu agar Wali Negara harus datang ke istana untuk mendiskusikan masalah suksesi. Sementara itu mereka telah memutuskan Pangeran Xian yang akan menjadi kaisar."

Tidak lama setelah Pan Yin selesai berbicara, titah kaisar pun tiba.

"Sekarang masalah penerus kaisar lebih penting," kata Cao Cao. "Urusan membasmi pengkhianat akan kita diskusikan nanti."

"Siapa yang berani mengikutiku mendukung Pangeran Bian ?" tanya He Jin

Tiba - tiba muncul seorang yang maju ke depan dan berkata "Berikan aku 5000 pasukan veteran dan aku akan menyerang istana, menyelamatkan pewaris tahta, membunuh para kasim dan membersihkan pemerintahan! Kedamaian akan muncul kembali di kekaisaran ini."

Orang yang berkata itu adalah Yuan Shao, anak dari bekas menteri dalam negeri Yuan Feng dan keponakan dari komandan pasukan penjaga kekaisaran Yuan Wei. Yuan Shao memiliki jabatan Komandan pasukan kekaisaran.

He Jin mengumpulkan 5000 pasukannya. Yuan Shao memakai pakaian perangnya dan mengambil komando. He Jin didukung oleh He Yong, Xun You, Zheng *** dan lebih dari 30 menteri lainnya dan pejabat tinggi berangkat menuju istana. Di dalam aula istana utama, peti mati kaisar ditaruh di depan altar dan mereka menaruh Liu Bian di singgasana naga. Setelah upacara selesai dan semua telah menghormat pada kaisar yang baru, Yuan Shao pergi untuk menahan kasim Jian Shuo. Jian Shuo pergi bersembunyi di taman istana dengan ketakutan. Dia bersembunyi dibalik semak - semak tetapi akhirnya ketahuan. Jian Shuo dibunuh oleh Guo Sheng dan seluruh pengikutnya menyerah.

Yuan Shao berkata, "Kelompok mereka sekarang sudah terpecah-pecah. Ini adalah kesempatan kita untuk membunuh semua kasim - kasim itu."

Tetapi Zhang Rang dan kasim - kasim utama istana yang mengetahui bahaya itu segera mencari perlindungan di tempat permaisuri He.

Mereka berkata, "Yang bersalah membuat rencana untuk melukai kakakmu adalah Jian Shuo, hanya dia lah yang harusnya dihukum dan bukan yang lainnya. Sekarang Wali Negara dengan saran Yuan Shao berusaha membunuh kami semua. Kami meminta belas kasihan mu, Yang Mulia."

"Jangan takut!", kata permaisuri He, yang anaknya baru saja menjadi kaisar, "Aku akan melindungi kalian semua."

Dia mengirim utusan kepada kakaknya, isinya "Kau dan Aku berasal dari orang rendahan dan kita berhutang pada para kasim itu. Jian Shuo sekarang telah mati dan apakah kau perlu membunuh semua kasim itu atas dasar saran Yuan Shao?"

He Jin menuruti saran itu. Dia menjelaskan pada kelompoknya, "Orang jahat sebenarnya telah kita bunuh, Jian Shuo telah mati dan seluruh keluarganya akan dikenai hukuman. Tapi kita tidak perlu membunuh seluruh kasim dan melukai mereka."

"Bunuh mereka sampai keakarkaranya dan rantingnya" teriak Yuan Shao, " Atau mereka akan menghancurkanmu."

"Aku telah memutuskan," kata He Jin "Jangan katakan apa-apa lagi."

Dalam beberapa hari He Jin mengangkat dirinya menjadi Perdana Menteri dan teman-temannya diangkat sebagai pejabat tinggi.

Ibu Suri Dong memanggil Zhang Rang dan kelompoknya dalam suatu rapat.

Kata Ibu Suri. "Adalah jasaku yang pertama kali membawa Permaisuri He ke hadapan kaisar. Sekarang anaknya menjadi kaisar dan seluruh pejabat tinggi adalah teman-temannya. Kekuasaannya begitu besar, apakah yg dapat kita lakukan ?"

Zhang Rang membalas, "Yang mulia harus mengatur negara dari "balik tirai", lalu berusaha menjadikan pengeran Liu Xian sebagai kaisar, berikanlah kakakmu "PAMAN KAISAR" Dong Chong jabatan yang tinggi dan tempatkanlah dia pada posisi militer, saya rasa itu akan berhasil."

Ibu Suri Dong setuju, keesokan hari dia mengadakan rapat dan mengeluarkan titah. Dia mengangkat Liu Xian sebagai pangeran Chen Liu dan Dong Chong sebagai Jendral pasukan kuda terbang dan dia memberikan kekuasaan kepada para kasim untuk turut serta dalam masalah negara.

Ketika Permaisuri He mendengar hal ini, dia menyiapkan jamuan pesta dimana dia mengundang Ibu Suri Dong.

Ditengah -tengah pesta ketika semua sedang asiknya meminum arak dan anggur, Permaisuri He berdiri dan menawarkan minumam pada Ibu Suri Dong seraya berkata "Adalah tidak layak jika kami berdua harus turut campur di dalam masalah negara, pada awal mula dinasti Han ketika permaisuri Lu turut campur dalam masalah negara, seluruh keluarganya dihukum mati. Kita harus tetap diam dan tinggal dalam istana masing - masing dan biarkan urusan negara di urus oleh pejabat pemerintahan. Itu akan baik bagi negara, dan aku percaya bahwa kau akan melakukan itu."

Tapi Ibu Suri Dong marah dan berkata "Kau meracuni Lady Wang karena kecemburuanmu. Sekarang berdasarkan fakta bahwa putramu duduk sebagai kaisar dan kakakmu berkuasa kau berkata seperti ini. Aku akan memerintahkan agar kakakmu dipenggal dan itu sama mudahnya seperti aku membalikan telapak tanganku."

Permaisuri He juga naik pitam dan berkata "Aku berusaha berbaik hati denganmu dan mengapa kau mengucapkan kata - kata kasar itu."

"Kau wanita rendahan yang lahir dari keluarga tukang daging, apa yang kau tahu mengenai pemerintahan ?" hardik Ibu Suri Dong.

Dan pertengkaran itu makin menjadi-jadi.

Para kasim membujuk wanita-wanita itu untuk berhenti. Tetapi malam harinya Permaisuri He memangil kakaknya untuk menghadap ke istana dan menceritakan apa yang telah terjadi. He Jin akhirnya mengumpulkan para pejabat istana dan meminta pendapat mereka. Keesokan paginya sebuah titah dikeluarkan "Ibu Suri Dong, sebagai ibu angkat dari Liu Xian, Pangeran dari Chen Liu,adalah seorang pangeran daerah. Maka dengan itu tidak dapat tinggal di istana dan harus segera meninggalkan istana dan dikembalikan ke daerah asalnya di propinsi He Jian."
Bersambung...

Sumber: http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

"Kalau kita tidak memukul pejabat rakus ini sampai mati, apakah yang akan terjadi kemudian ?" kata Zhang Fei.

"Oh Tuan, tolong selamatkan diriku!" mohon si Inspektur.

Karena Liu Bei selalu baik hati maka dia meminta saudaranya untuk melepaskannya dan membebaskannya.

Lalu Guan Yu tiba dan berkata "Kakak, setelah usahamu yang hebat kau hanya mendapatkan jabatan ini dan setelah kau berhasil disini lalu orang ini datang dan menghinamu. Sarang burung bukanlah tempat untuk burung phoenix, mari kita bunuh orang ini, pergi dari sini dan kembali ke rumah sampai kita dapat membuat rencana yang lebih besar lagi."

Liu Bei merenung sejenak kemudian menyerahkan Stempel Tugas- nya dengan menggantungkannya di leher inspektur tersebut dan berkata, "Kalau aku mendengar kau melukai orang, aku akan membunuhmu. Sekarang aku akan memaafkan nyawamu dan aku akan mengembalikan tanda penugasan ini. Kami akan pergi."

Setelah itu Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei pergi, walaupun seluruh penduduk desa itu telah bersujud meminta Liu Bei tidak meninggalkan mereka tetapi Liu Bei telah mengambil keputusan. Saat itu senja hari ketika bayangan tiga orang berlalu sesuai dengan terbenamnya matahari senja. Mereka akan menemukan Takdir yang lebih besar lagi untuk mereka lakukan.......

----------------------------------------------------------------

Pada saat ini ke-10 kasim utama telah menguasai segalanya di dalam genggaman mereka dan mereka menyingkirkan siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka. Dari setiap pejabat yang membantu menumpas pemberontakan jubah kuning mereka meminta hadiah dan apabila hal ini tidak dipenuhi maka mereka akan menyingkirkan orang - orang tersebut. Komandan Kekaisaran Huangfu Song dan Zhu Jun juga tidak luput dari tekanan mereka dan akhirnya harus menanggalkan jabatan mereka. Di lain pihak, kasim - kasim istana itu memalsukan jasa bagi diri mereka sendiri, 13 kasim istana mendapat gelar kerajaan termasuk Zhao Zhong yang mendapat pangkat Jenderal Pasukan Kuda Terbang Kekaisaran. Pemerintahan pun berjalan semakin buruk dari hari ke hari dan rakyat merasa sangat menderita.

Pemberontakan kembali muncul di Changsha dipimpin oleh Ou Xing dan di wilayah Yuyang dipimpin oleh Zhang Ju dan Zhang Chun. Surat permohonan dan pemberitahuan dikirimkan oleh pejabat dan pemerintah daerah ke ibukota, surat - surat berdatangan seperti lapisan salju yang turun di musim dingin. Tetapi ke-10 kasim utama istana membakar seluruh surat-surat itu. Suatu hari Kaisar mengadakan perjamuan di salah satu taman kekaisaran dengan ke-10 kasih utama istana. Ketika Penasehat Kekaisaran Liu Tao tiba - tiba muncul dengan kegelisahan yang amat sangat kaisarpun bertanya ada masalah apa.

"Baginda, Bagaimana baginda dapat berpesta seperti ini ketika kekaisaran diambang kehancuran ?" kata Liu Tao.

"Semua baik - baik saja" Kata Kaisar. "Apa yang salah ?"

Kata Liu Tao, "Pemberontakan muncul dari berbagai sisi kerajaan dan mereka merampas kota - kota dan ini semua adalah salah dari ke-10 kasim tersebut yang menjual jabatan dan melukai orang - orang, menekan pejabat - pejabat yang setia. Semua yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan telah meninggalkan istana dan kembali ke tempat asal mereka. Kehancuran sudah didepan mata kita !"

Pada saat ini kasim - kasim itu langsung melepas topi mereka dan berlutut dihadapan kaisar.

"Kalau Menteri Liu Tao tidak setuju dengan kami," kata mereka, "Maka kami dalam bahaya. Kami berharap nyawa kami diampuni dan kami akan pergi ke tanah pertanian kami. Kami akan menyerahkan harta kami untuk membantu biaya militer kerajaan."

Mereka semua menangis tersedu-sedu.

Kaisar marah pada Liu Tao, "Kamu juga punya pelayan. Kenapa kamu tidak dapat menyukai yang melayaniku."

dan kaisar pun memanggil pengawalnya dan meminta Liu Tao diseret keluar dan dipenggal.

Liu Tao berteriak keras " Kematianku tidak ada artinya, sungguh malang Dinasti Han setelah berkuasa empat abad lamanya sedang mengalami kejatuhan dengan cepat sekali."

Pengawal itu sedang menyeretnya dan ketika mereka akan menjalankan titah kaisar tiba - tiba datang lagi seorang menteri dan berkata " Jangan penggal, tunggu sampai aku berbicara pada kaisar."

Dia adalah menteri dalam negeri, Chen Dan. Dia bertemu dengan kaisar, kepadanya dia berkata "Atas dasar kesalahan apa penasehat Liu Tao dihukum ?"

"Dia telah memfitnah pelayanku dan menghina diriku." Kata Kaisar

"Seluruh kerajaan akan memakan daging dari para kasim - kasim itu jika mereka bisa dan walaupun begitu baginda malah menghargai mereka dan menganggapnya orang tua baginda. Mereka tidak mempunyai belas kasih dan jasa tetapi mereka menciptakan diri mereka seperti layaknya pejabat tinggi. Lebih dari pada itu Feng Xu berkomplot dengan pemberontah jubah kuning. Kecuali Yang Mulia mengambil tindakan tentang hal itu maka negara ini akan hancur."

"Tidak ada bukti yang menyatakan Feng Xu berkomplot." kata Kaisar. "Tentang 10 kasim utama, apakah tidak ada yang setia diantara mereka ?"

Chen Dan berlutut dan menyembah kaisar sampai dahinya menyentuh tanah dan tidak merubah pendiriannya. Kaisar kemudian marah dan memerintahkan penjaga juga membawa Chen Dan dan dipenjarakan bersama Liu Tao. Malam itu keduanya tewas terbunuh.

Kemudain ke-10 kasim utama membuat titah palsu dan mengirimkannya pada Sun Jian dan mengangkatnya sebagai gubernur Chang Sha, Dengan titah untuk mengatasi pemberontakan Ou Xing. Dalam kurang dari dua bulan Sun Jian melaporkan telah berhasil menumpas pemberontakan. Atas hal ini dia diberi gelar Penguasa Wu Cheng.

Liu Yu diangkat menjadi Penguasa Kerajaan daerah Yuzhou dan diperintahkan untuk menumpas pemberontak YuYang dan Zhang Ju serta Zhang Chung. Liu Hu dari Daizhou merekomendasikan Liu Bei kepada Liu Yu. Liu Yu menerima saran itu dan memberi Liu Bei jabatan Komandan Utama dan memberinya pasukan untuk menumpas pemberontak. Liu Bei berhasil menumpas pemberontakan itu. Zhang Cun adalah orang yang kejam, Salah seorang anak buahnya memberontak dan memenggal kepalanya lalu menyerahkan diri. Zhang Ju yang melihat hal itu melakukan bunuh diri daripada ditangkap tentara Liu Bei.

Pemberontakan YuYang berhasil dipadamkan. Jasa Liu Bei dilaporkan pada kekaisaran, dan dia menerima amnesti untuk kasus penghinaan terhadap inspektur kerajaan di An Xia. Liu Bei diangkat menjadi Wakil Kepala daerah di Xia Mi, lalu menjadi Komandan Pasukan di GaoTang. Kemudian Gongsun Zan memuji jasa - jasa Liu Bei terdahulu dan Liu Bei diangkat menjadi Kepala Daerah PingYuan. Tempat ini sangat baik karena perdagangan yang maju. Liu Yu juga mendapat promosi menjadi Panglima Besar.

Pada musim panas tahun ke-6 sejak pemberontakan jubah kuning dimulai, Kaisar Ling sakit parah. Dia memanggil He Jin untuk datang ke istana dan mengatur masa depan kerajaan. He Jin berasal dari keluarga sederhana yang pekerjaannya adalah tukang daging, Tetapi adik perempuannya adalah selir kaisar dan melahirkan putra bagi kaisar bernama Liu Bian. Setelah itu dia menjadi Permaisuri He, dan He Jin menjadi Wali Putra Mahkota.

Kaisar juga mempunyai seorang selir yang cantik bernama Lady Wang yang juga memberikan seorang putra bagi kaisar bernama Liu Xian. Permaisuri He meracuni Lady Wang karena cemburu dan Liu Xian diurus oleh Ibu Suri Dong yang merupakan ibu dari Kaisar Ling. Ibu suri Dong merupakan istri dari Liu Chang, penguasa Jie Du. Karena Kaisar sebelumnya, kaisar Huan tidak mempunyai keturunan laki-laki maka dia mengadopsi anak Liu Chang menjadi pewaris tahtanya. Kaisar Ling membawa serta ibunya masuk istana untuk tinggal bersama dan memberikan gelar ibu suri.

Ibu Suri Dong selalu membujuk putranya agar menunjuk Liu Xian sebagai putra mahkota dan memang kaisar sangat menyukai anak itu dan ingin melakukan seperti apa yang ibunya minta.

Ketika hari - harinya hampir berakhir, salah satu dari kasim Jian Shuo berkata, "Jika Liu Xian yang akan menggantikan, He Jin harus disingkirkan untuk mencegah bencana di kemudian hari."

Kaisar juga melihat hal ini. Dan karena itu memerintahkan He Jin menghadap.
Bersambung...

Sumber: http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Ketika berumur 17 tahun, Sun Jian bersama ayahnya melihat bajak laut yang sedang membagi hasil rampasan mereka di pinggiran sungai Qintang.

"Kita dapat menangkap mereka!" katanya pada ayahnya.

Lalu dia menggenggam pedangnya, dia berlari menuju arah bajak laut itu dan berteriak seolah-olah dia sedang memanggil pasukannya untuk mengepung. Ini membuat para bajak laut itu percaya bahwa mereka sedang diserang, dan mereka melarikan diri, meninggalkan rampasan mereka. Sun Jian berhasil membunuh salah satu bajak laut itu. Peristiwa tersebut membuat Sun Jian menjadi terkenal dan mendapatkan jabatan di pemerintahan daerah.

Lalu dengan kerjasama dengan pihak pemerintah, Sun Jian membangun tentara berkekuatan 1000 orang dan membantu meredakan pemberontakan Xu Chang yang menyebut dirinya Kaisar Matahari dan memiliki 10.000 pasukan. Anak pemberontak, Xu Hao juga ikut terbunuh. Untuk hal ini Sun Jian diangkat menjadi kepala pengadilan Yandu kemudian Xu Yi dan terakhir adalah Xia Pi oleh penguasa daerah Zang Min.

Ketika pemberontakan jubah kuning terjadi, Sun Jian mengumpulkan anak muda di desanya untuk membentuk tentara, akhirnya terbentuk pasukan berjumlah 1500 orang dan ikut menumpas pemberontakan.

Zhu Jun menerima Sun Jian dengan senang hati dan memerintahkannya untuk menyerang dari selatan, sedangkan utara dan barat akan diserang secara bergantian oleh Liu Bei dan Zhu Jun. Sedangkan gerbang timur akan dibiarkan terbuka agar pemberontak dapat lari dari sana. Sun Jian adalah yang pertama yang dapat menaiki tembok kota. Dia membunuh 20 orang pemberontak lebih sendirian. Sun Jian berhasil turun dari tembok, mengambil tombak dan memukul jatuh Zhao Hong dari kudanya. Kemudian Sun Jian menaiki kuda Zhao Hong dan menyabetkan pedangnya sehingga menyebabkan banyak tentara pemberontak tewas.

Pasukan pemberontak berlari ke arah utara dan bertemu dengan pasukan Liu Bei, mereka tidak melawan dan terpencar-pencar menyelamatkan diri. Tapi Liu Bei mengeluarkan anak panahnya dan memanah pimpinan pemberontah Sun Zhong yang langsung jatuh ke tanah. Pasukan Utama Zhu Jun akhirnya tiba dan setelah pembantaian besar-besaran, pasukan pemberontak menyerah. Setelah itu kedamaian tercipta di sepuluh wilayah di daerah Nanyang.

Zhu Jun kembali ke ibukota Luo Yang dan diangkat menjadi Jendral Pasukan Kuda Terbang dan menerima jabatan sebagai gubernur Henan. Dia tidak melupakan jasa orang - orang yang membantunya. Dia melaporkan jasa Liu Bei dan Sun Jian.

Sun Jian yang memiliki pengaruh dan koneksi yang dapat mendukung dia diangkat menjadi komandan pasukan kerajaan di Chang Sa. Tetapi Liu bei walaupun telah dipromosikan oleh Zhu Jun dalam suratnya kepada kerajaan tetap harus menunggu kenaikan jabatannya. Liu Bei dan kedua saudaranya sedih menerima kenyataan ini.

Suatu hari ketika sedang berjalan sendirian di ibu kota, Liu Bei bertemu seorang pejabat istana Zhang Jun yang kepadanya dia menceritakan keluh kesahnya. Zhang Jun sangat terkejut akan hal ini dan dia akhirnya menceritakan pada kaisar mengenai hal ini.

Katanya, "Pemberontakan Jubah Kuning terjadi karena para kasim telah menjual jabatan dan memperdagangkan posisi. Pekerjaan di istana hanya untuk teman - temannya, hukuman hanya untuk musuh-musuhnya. Ini menyebabkan pemberontakan. Oleh sebab itu maka baiklah untuk memenggal ke-10 kasim utama dan mempertontonkan kepala mereka dan memberitahukan kepada rakyat apa yang telah dilakukan mereka. Kemudian berikanlah balasan kepada mereka yang berhak dan dengan itu maka seluruh negara akan berada dalam keadaan aman."

Tetapi para kasim langsung menyanggah hal ini dan berkata bahwa Zhang Jun menghina kaisar. Kaisar memerintahkan Zhang Jun untuk meninggalkan ruangan.

Walaupun begitu para kasim itu berpikir, "Pasti ada seseorang yang terlupakan jasanya walaupun telah berhasil mengalahkan pemberontak yang menyatakan kekesalannya."

Lalu mereka menghimpun daftar orang - orang yang tidak penting yang menunggu penugasan dan salah satu dari daftar itu adalah Liu Bei. Liu Bei akhirnya ditempatkan sebagai Kepala Wilayah desa An Xi, yang langsung diterima oleh Liu Bei dan akhirnya Liu Bei membubarkan pasukannya dan mengirimnya pulang. Dia hanya mempertahankan dua lusin orang saja sebagai tentaranya.

Ketiga bersaudara itu akhirnya sampai di An Xi dan secepatnya mereka membereskan administrasi di daerah itu dan memerintah dengan bijaksana sehingga tidak pernah ada kejahatan selama berbulan-bulan di daerah itu. Ketiga saudara itu hidup dalam harmoni, makan dalam satu meja dan tidur dalam satu ranjang yang sama. Tetapi ketika Liu Bei berada di depan publik, Guan Yu dan Zhang Fei akan selalu berdiri sebagai penjaganya walaupun untuk seharian.

Empat bulan setelah kedatangan mereka, datanglah titah kaisar untuk mengurangi jumlah orang militer yang mengisi pos sipil. Liu Bei mulai takut bahwa dia akan terkena pengurangan itu. Kerajaan mengirimkan inspektur pemeriksa bernama Du Biao. Liu langsung menyambutnya dengan hormat tetapi Du Biao mengacuhkannya. Melihat hal ini GuanYu dan Zhang Fei sangat marah.

Ketika Inspektur itu tiba di penginapan, dia duduk di kursi dan tidak mempersilahkan Liu Bei duduk. Setelah cukup lama baru dia berkata kepada Liu Bei.

"Dari manakah kau berasal ?"

Liu Bei menjawab, "Aku adalah keturunan dari Pangeran Sheng dari Zhongshang. Sejak pertama kali aku melawan pemberontak di Zhou telah 30 pertempuran kujalani, aku mendapatkan banyak kemenangan dan hadiahku adalah jabatan ini."

"Kamu berbohong mengenai asalmu dan pernyataanmu mengenai jasamu adalah bohong!" hardik si inspektur.

"Sekarang kerajaan memerintahkan untuk melakukan pengurangan pejabat dari strata yang rendah dan pejabat yang korup."

Liu Bei terdiam dan akhirnya memohon diri. Dalam perjalan pulangnya Liu Bei meminta nasihat dari para pembantunya.

"Tindakan seperti ini hanya dapat berarti satu, yaitu dia meminta uang sogokan." kata mereka pada Liu Bei.

"Aku tidak pernah mengambil uang rakyat bahkan satu peser pun, dari mana aku memiliki uang untuk membayarnya ?"

Keesokan harinya Inspektur ini memanggil pejabat kecil di desa itu dan memaksa mereka untuk menulis pengakuan bahwa Liu Bei telah menekan rakyat. Liu Bei pada saat itu ingin menyangkal hal ini tetapi penjaga pintu menahan Liu Bei.

Ketika itu Zhang Fei sedang sedih dan sudah mabuk seharian. Dia menunggang kuda dan mengendarainya melewati penginapan inspektur tersebut. Ketika melewati pintunya, dia melihat kumpulan orang - orang tua sedang menangis sedih. Dia bertanya kepada orang-orang tersebut apa yang sedang terjadi.

Kata mereka, "Inspektur itu telah memaksa bawahan – bawahan Liu Bei untuk menulis pernyataan palsu, agar Liu Bei dapat dihukum. Kami datang kesini untuk memohon belas kasihan padanya tetapi tidak diijinkan masuk. Bahkan kami dipukuli oleh penjaga pintunya.”

Hal ini memprovokasi kemarahan Zhang Fei yang dalam keadaan mabuk berat itu. Zhang Fei sangat marah sehingga matanya melotot besar sekali. Dia langsung melabrak masuk ke dalam penginapan itu dan penjaga pintu yang ketakutan melihatnya langsung lari. Lalu dia masuk ke dalam pelataran taman penginapan itu dan di sana dia melihat Inspektur itu sedang duduk di atas kursi tinggi dan pejabat kecil daerah itu sedang diikat dan berlutut dibawahnya.

"Penindas rakyat, pencuri!" teriak Zhang Fei. "Tahukah kau siapa aku ?"

Tetapi sebelum Inspektur itu dapat menjawab, Zhang Fei telah menarik rambutnya dan menariknya ke depan. Zhang Fei mengambil ranting dari pohon willow dan memecut Inspektur itu dengan kerasnya.

Liu Bei saat itu sedang duduk termenung sedih, ketika dia mendengar ada suara ribut – ribut di depan pintu. Dia berkata ada masalah apa.

Mereka memberitahu padanya, "Jendral Zhang Fei mengikat seseorang dan memukulinya!"

Dengan secepatnya Liu Bei bergegas keluar dan Liu Bei melihat siapakah korban Zhang Fei ini. Liu Bei lalu bertanya pada Zhang Fei mengapa memukulnya.
Bersambung...

Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments